Silo Mentality: Arti, Dampak dan Cara Mengatasi di Dunia Kerja!

Pernahkah kamu mendengar tentang istilah silo mentality? Ternyata sikap silo mentality  seringkali ditemui di tempat kerja. Atau jangan-jangan, selama ini kamu telah menerima perlakuan silo mentality namun tidak menyadarinya?

Silo mentality dapat menghambat efektivitas pengembangan perusahaan. Terlebih jika ternyata silo mentality dimiliki oleh lebih dari satu orang atau telah menjadi budaya untuk perusahaan tersebut, tentunya segala birokrasi dan flow kerja akan kena dampaknya. Yuk simak lebih dalam tentang arti silo mentality, dampak, serta cara menghadapinya agar terhindar dari sikap ini!

silo mentality, silo mentality adalah
Bahaya Silo Mentality

Apa itu Silo Mentality?

Pengertian Silo Mentality

Silo mentality adalah sikap seseorang yang enggan untuk berbagi informasi seputar pekerjaan dengan rekan kerja di divisi lain padahal masih berada dalam satu perusahaan yang sama. Contoh silo mentality ketika seseorang mengetahui suatu informasi tentang perkembangan suatu proyek, berita tersebut akan disimpan sendiri dan tidak mau disalurkan ke divisi lain untuk keuntungan pribadi atau departemennya sendiri.

Kenapa Disebut Silo?

Silo sendiri awalnya mengacu pada suatu tempat yang berfungsi untuk menyimpan biji-bijian, batu bara, semen, karbon, serpihan kayu, produk makanan, serbuk gergaji dan produk pertanian lainnya. Tempat tersebut tidak memiliki jendela dan biasanya dibangun dengan tinggi dan kokoh sehingga dapat menjaga segala produk yang tersimpan di dalamnya. 

Orang dengan silo mentality juga menjaga informasi yang dimiliki sehingga tidak tersebar ke divisi lain. Oleh karena itu, istilah silo mentality pun berkembang.

Faktor yang Memicu Silo Mentality

Beberapa faktor pemicu silo mentality adalah:

1. Budaya Perusahaan dengan Silo Mentality

Silo mentality yang tadinya mungkin bukan merupakan sikap kamu, dapat terbawa karena budaya perusahaan yang sudah mengadopsi hal tersebut. Dengan sikap ini, departemen jadi  

berdiri secara independen. Terlebih jika ada masalah yang melibatkan beberapa departemen, karyawannya cenderung hanya akan membagikan informasi dalam divisinya dan memperdulikan kinerja dari tim nya sendiri dan tidak ingin dibebankan dengan urusan tim lain yang masih merupakan satu permasalahan bersama. 

2. Kompetisi Antar Manajer

Persaingan antar manajer yang ingin tampil dan terlihat memberikan kontribusi yang besar terhadap perusahaan dapat memicu silo mentality tak hanya untuk dirinya namun juga diteruskan ke karyawan dalam timnya.

3. Politik Kantor

Silo mentality juga dapat terjadi karena adanya orang-orang berkepentingan khusus di lingkungan kerja. Sehingga, yang seharusnya kamu dapat fokus setiap hari untuk memberikan hasil terbaik pada pekerjaan, jadi merasa terbelakang atau terabaikan dengan informasi-informasi yang hilang atau tidak disampaikan demi kepentingan pribadi.

Dampak Silo Mentality di Lingkungan Kerja

Silo mentality tentunya dapat membawa pengaruh buruk terhadap performa perusahaan dan hubungan terhadap karyawan di divisi lain. Dampak dari silo mentality tersebut seperti:

  • Hanya peduli dengan masalah yang terjadi di divisinya
  • Bersikap acuh tak acuh dengan keadaan di lingkup kerja terutama yang melibatkan divisi lain
  • Mengakibatkan penurunan kinerja perusahaan namun meningkatkan kinerja departemen tertentu
  • Lingkungan kerja menjadi kurang harmonis dan nyaman
  • Produktivitas perusahaan menurun karena inefisiensi kinerja, kurangnya komunikasi dan kerja sama dari departemen tertentu
  • Tidak memiliki hubungan kedekatan yang baik dengan rekan kerja

📚 Baca juga:  Efektif! 10 Cara Meningkatkan Produktivitas Karyawan

Cara Mengatasi Silo Mentality di Dunia Kerja

Bagaimana sih cara mengatasi budaya kantor atau suatu divisi yang memiliki silo mentality di lingkungan kerja? Simak yuk beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi sikap ini:

1. Menyamakan Visi Semua Karyawan

Jika kamu berposisi sebagai atasan, maka ambillah kesempatan untuk dapat menyamakan visi bukan hanya kepada anak buah namun juga kepada manajer dari divisi lain.

Tindakan menyamakan visi dengan semua karyawan dari semua divisi akan menciptakan rasa kebersamaan untuk mencapai satu tujuan yang sama. Sehingga, karyawan dapat saling membantu dan bekerja sama untuk mencapai tujuan tersebut.

2. Bekerja Sama untuk Mencapai Tujuan Perusahaan

Setelah menentukan visi bersama, rencanakanlah tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai visi yang telah ditentukan. Perencanaan dan eksekusi tentunya tidak hanya melibatkan satu divisi saja, karena biasanya beberapa departemen dapat terlibat untuk menjalankan satu program atau kampanye. Maka, kamu dapat mulai untuk melakukan perencanaan, persiapan, eksekusi, dan evaluasi dengan semua divisi yang terlibat tanpa eksklusivitas satu departemen saja.

3. Membentuk Budaya Baru di Tempat Kerja

Cara selanjutnya adalah dengan membentuk budaya baru di tempat kerja. Yang tadinya bersikap acuh tak acuh, harus diberi motivasi untuk dapat terbuka satu sama lain demi tercapainya tujuan bersama. Untuk itu, perlu ada peran aktif dari atasan dan juga teman-teman satu divisi untuk terus saling mengingatkan dan memotivasi.

📚 Baca juga:  8 Tipe Budaya Perusahaan (Corporate Culture): Ciri-ciri dan Cara Membangunnya

4. Interaksi Lintas Departemen

Menumbuhkan budaya baru merupakan pekerjaan yang tidak instan, maka penting untuk diadakan interaksi lintas departemen untuk mendukung adanya perubahan tersebut. Artinya, sebelum, saat, dan setelah satu proyek selesai, tetaplah bersikap terbuka dan berbagi informasi kepada divisi lain untuk kemajuan bersama. Dengan begitu, divisi lain juga dapat memberi tahu perkembangan proyek mereka dan dapat saling membantu ketika ada masalah.

5. Melakukan Eksekusi yang Akurat

Eksekusi yang akurat dapat dilakukan dengan melakukan perincian terhadap barang atau sumber daya yang dibutuhkan, pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas, timeline pengerjaan, vendor yang terlibat, dan lain-lain. Dengan persamaan visi di awal, kesadaran untuk bekerja sama, membentuk budaya baru, dan berinteraksi terus menerus, para karyawan dapat berbagi informasi dan perkembangan hasil kerjanya pada fase ini.

6. Berlatih 

Cara menghadapi silo mentality yang terakhir adalah dengan berlatih. Berlatih untuk mau mendengar opini orang lain, berlatih untuk bersikap terbuka terhadap perubahan, berlatih untuk berbagi informasi, berlatih untuk bekerja sama, berlatih untuk menumbuhkan rasa empati lintas departemen, berlatih untuk tidak mementingkan kepentingan satu divisi saja namun dapat fokus mencapai tujuan bersama. Semua hal tersebut butuh latihan, dan tentunya tidak mudah, namun ketika kamu mau terus berlatih untuk membuat kebiasaan yang lebih baik, kamu dapat menciptakan suasana kerja dan sikap yang lebih baik dari silo mentality!

Jadi, setelah mengetahui arti silo mentality, dampak yang diberikan beserta cara menghadapinya di lingkungan kerja, dapatkah kamu mengevaluasi budaya di kantormu sekarang? Apakah ada rekan kerja yang mempunyai silo mentality? Jika masih ada rekan kerjamu yang memiliki silo mentality, kamu dapat coba menerapkan cara-cara di atas dan semoga setelahnya suasana kantor menjadi lebih nyaman.

Sedang mencari pekerjaan? CakeResume menyediakan lowongan pekerjaan menarik yang aman dan terpercaya. 🎉

Kesimpulan:

  • Silo mentality adalah keengganan seseorang di suatu divisi untuk berbagi informasi dengan karyawan lain di divisi yang berbeda pada suatu perusahaan yang sama
  • Silo mentality dapat terjadi karena budaya perusahaan yang telah menerapkan hal tersebut, persaingan antar manajer, juga politik kantor.
  • Dampak dari silo mentality membuat seseorang tidak peduli pada divisi lain dan hanya mementingkan kemajuan divisinya saja. Hal tersebut akan menghambat efektivitas kerja dan perkembangan perusahaan, serta berdampak pada hubungan antar karyawan yang kurang harmonis.
  • Cara mengatasi silo mentality adalah dengan menyamakan visi semua karyawan, bekerja sama untuk mencapai tujuan perusahaan, membentuk budaya baru di tempat kerja, interaksi lintas departemen, melakukan eksekusi dengan akurat, dan terus berlatih untuk membuka diri. 

--- Ditulis Oleh Leony Jardine ---



Resume Builder

Build your resume only in minutes!

More Articles you might be interested in

Latest relevant articles
Interview Skills
May 7th 2024

5 Cara Menjawab Berapa Gaji yang Anda Inginkan dalam Interview!

Pernah ditanya "Berapa gaji yang Anda inginkan?" saat interview? Ini tips dan contoh jawabannya.