Resesi Mendekat, Waktunya Career Cushioning?

Penjualan menurun. Perusahaan mulai merugi. Dan gosip-gosip layoff mulai bermunculan di antara teman sejawat. Ditambah dengan isu resesi di tahun mendatang. Sudah saatnya kah untuk mulai mencari pekerjaan baru? 

Bagi pengamat ekonomi, job market beberapa tahun belakangan mungkin sedikit lebih menarik untuk disimak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Di awal dan pertengahan pandemi, ada The Great Resignation. Perusahaan-perusahaan dibuat ketar-ketir dengan pengunduran diri dalam jumlah besar. Jalannya perusahaan yang sedang tak menentu karena PPKM jadi semakin sulit karena kekurangan tenaga kerja. Ada pula pekerjaan tambahan untuk merekrut karyawan baru.

Dari segi pekerja, tentunya diuntungkan dengan fenomena ini. Ada sedikit lebih banyak leverage untuk negosiasi gaji ataupun kondisi kerja yang lebih baik. 

Namun kemudian, muncul pula arus balik dalam pasar tenaga kerja. 

Tren layoff dimulai dari startup-startup yang terpengaruh dampak Tech Winter. Berturut-turut startup papan atas seperti Shopee, RuangGuru, Zenius, GoTo, dan Xendit mengumumkan PHK massal.   

Meski awalnya hanya memengaruhi sektor tech, tentunya ada kekhawatiran bagi karyawan di sektor lainnya. Bagaiamanpun, startup-startup yang melakukan PHK bukan perusahaan kecil.

Parahnya, ekonomi juga sedang tidak menentu. 

Pemerintah boleh saja menekankan prediksi ekonomi yang optimistis untuk 2023. Namun, kehilangan pekerjaan pada saat harga barang sedang meningkat drastis seperti sekarang tentunya akan sangat fatal.

Sudahkah waktunya mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk?

Apa itu Career Cushioning? 

Usaha bersiap untuk kemungkinan kehilangan pekerjaan mendadak disebut career cushioning.

Dalam Bahasa Inggris, cushion berarti bantalan. Alias benda empuk yang bisa menahan kita dari efek fatal saat terjatuh. 

Bila kata ini digabungkan dengan kata career (Bahasa Indonesia: karir), jadilah career cushion.

Singkatnya, career cushioning adalah segala sesuatu yang kita lakukan untuk mencegah dampak negatif dari kehilangan pekerjaan secara tiba-tiba.

Dalam praktiknya, career cushion, umumnya merujuk pada hal-hal seperti meng-update LinkedIn dari waktu ke waktu, memperluas jaringan profesional, belajar skill baru, atau bahkan melamar ke perusahaan yang baru. 

career cushioning
Mengapa Melakukan Career Cushioning?

Apakah Sekarang Waktunya Untuk Career Cushioning?

Terlepas dari ketidakstabilan kondisi ekonomi dan tren layoff yang merebak, ada baiknya untuk mempertimbangkan matang-matang sebelum melakukan career cushioning.

Mengutip pemenang Nobel Ekonomi Daniel Kahneman dalam bukunya yang berjudul Thinking Fast and Slow, manusia pada umumnya memiliki fokus yang terbatas. Biasanya, kita memiliki batas jumlah hal yang dapat kita lakukan dalam waktu bersamaan tanpa memengaruhi performa di tugas yang lain. 

Mempersiapkan diri sedini mungkin memang baik. Namun bila tidak hati-hati, ada kemungkinan melakukan career cushioning dapat menyebabkan fokus pada pekerjaan yang sedang kita jalani berkurang. 

Alhasil, hal ini dapat berdampak pada performa di tempat kerja yang menurun. Dan justru akan semakin memperbesar resiko pemberhentian hubungan kerja ataupun perlambatan promosi. 

Sebelum memulai career cushioning, ada baiknya untuk melakukan analisa menyeluruh dan mempertimbangkan seluruh opsi yang tersedia. 

Pertama, pikirkan apa yang menjadi motivasi utama dalam melakukan career cushioning. Apakah industri dan perusahaan tempat Anda bekerja menunjukkan indikasi layoff yang jelas? Atau sebaliknya, ada motivasi lain yang mendorong Anda?

Menurut salah seorang career expert Linkedin Charlotte Davis, terkadang orang melakukan career cushioning bukan karena resiko PHK. Alih-alih ada masalah lain di tempat kerja yang membuat sang karyawan tidak puas dengan tempat kerjanya. Misalnya, minimnya kesempatan berkembang ataupun lingkungan kerja yang tidak suportif.

Bila dihadapkan pada situasi ini, career cushioning bukan jawaban yang paling tepat. Usahakanlah untuk terlebih dahulu menyelesaikan masalah secara internal. Cobalah untuk berbicara dengan supervisor maupun HRD. Utarakan permasalahan dan tanyakan kemungkinan solusi yang dapat ditawarkan perusahaan. 

Bagi perusahaan, biaya untuk mempertahankan karyawan umumnya lebih kecil daripada biaya merekrut karyawan baru. Karena itu, perusahaan biasanya memiliki insentif untuk menyelesaikan masalah karyawan mereka. Salah satunya mungkin dengan memindahkan karyawan ke departemen lain.

Kedua, pastikan mempertimbangkan seluruh opsi yang ada. 

Dalam kondisi perusahaan yang kurang bersahabat, selain melakukan career cushion, ada pula opsi untuk memperkuat posisi Anda di perusahaan. 

Hal ini dapat dilakukan misalnya dengan melibatkan diri dalam proyek strategis. Ataupun menghasilkan performa di atas rata-rata karyawan lainnya. Kedua hal ini akan membuat pihak manajemen berpikir dua tiga kali sebelum memberhentikan Anda. 

Setelah melalui pertimbangan matang, bila Anda memilih tetap melakukan career cushioning, ada beberapa hal yang dapat dilakukan. 

Kiat Sukses Mempersiapkan Diri

Hal yang pertama harus diingat adalah untuk tidak terburu-buru dalam mengirimkan lamaran pekerjaan. Untuk mendapatkan pekerjaan memang harus mengirimkan lamaran. Meski demikian, Anda masih memiliki pekerjaan pada saat ini. Dan perusahaan belum tentu akan melakukan layoff. 

Alih-alih buru-buru menyebar lamaran, gunakan waktu untuk memosisikan diri sebagai kandidat yang menarik bagi calon perusahaan. Setelah itu, usahakan untuk mengenal lebih banyak rekruter di bidang Anda. 

Karena itu, pada tahap kedua, lakukan asesmen menyeluruh perihal kemampuan. 

Tuliskan 10 skill terpenting dalam profesi Anda. Dan lakukan penilaian berdasarkan daftar tersebut. Pastikan untuk mencatat kemampuan mana saja yang masih memerlukan peningkatan. 

Tindak lanjuti asesmen dengan melatih keterampilan-keterampilan yang masih membutuhkan perbaikkan. 

Mengasah skill dapat dilakukan di tempat kerja. Misalnya dengan melibatkan diri dalam proyek-proyek yang membutuhkan skill tersebut.

Atau dapat juga dilakukan di luar tempat kerja. Contohnya dengan mengikuti kelas di Udemy, Coursera, maupun platform edukasi online lainnya.

Ketiga, perbaiki CV dan profil LinkedIn. Setelah mengasah keterampilan, pastikan untuk memuat update tersebut pada CV maupun LinkedIn. 

Rekruter tidak mengenal kandidat kerja secara pribadi. Karena itu, pada umumnya, mereka sangat bergantung pada apa yang ditampilkan di CV maupun LinkedIn. Kedua hal tersebut bisa diibaratkan sebagai first impression dari pelamar. Karena itu, pastikan membuat CV/profil LinkedIn yang lengkap, rapi, dan professional.

Terakhir, perluas jaringan kenalan. Dengan memperluas jaringan, akan ada lebih banyak informasi lowongan kerja yang didapatkan. Selain itu, akan lebih mudah untuk mendapatkan rekomendasi ketika melamar di perusahaan lain. 

Untuk memperluas jaringan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan. 

Secara online, pastikan untuk proaktif mengelola profil LinkedIn. Post momen-momen ataupun hal-hal yang bisa memperkuat kredensial Anda sebagai pelamar. Misalkan, bagikan sertifikasi yang baru diselesaikan. 

Selain itu, cobalah untuk secara aktif berkenalan dengan tokoh-tokoh dari industri tempat Anda bekerja. Pastikan untuk tetap sopan. Berikan impresi pertama yang baik dengan menanyakan kesediaan lawan bicara untuk ditanyai. 

Untuk kegiatan offline, hadirilah seminar/konferensi/pelatihan terkati bidang yang digeluti. Selain menambah ilmu, acara-acara ini membuka ruang untuk networking dengan pekerja lainnya di industri Anda. 

Dengan langkah-langkah ini, niscaya Anda akan lebih siap untuk menghadapi perubahan mendadak di perusahaan. Selamat mencoba!

--- Ditulis Oleh Stephen Antonius ---

Resume Builder

Build your resume only in minutes!

More Articles you might be interested in

Latest relevant articles
Interview Skills
Feb 7th 2023

5 Cara Menjawab Berapa Gaji yang Anda Inginkan dalam Interview!

Ditanya "Berapa gaji yang Anda inginkan" saat interview? Kamu dapat menjawab dengan estimasi gaji dan alasanmu seperti “Di pekerjaan saya sebelumnya, saya menerima rata-rata gaji X juta sampai X juta dari fresh graduate hingga...